Kecocokan Itu Dibangun, Bukan Ditemukan. Berhentilah Mencari Orang yang Tepat!
Ada satu nasihat tentang hubungan yang terdengar begitu masuk akal:
“Tunggu saja orang yang tepat.”
Seolah-olah di luar sana ada seseorang yang pada suatu hari akan datang, lalu semuanya terasa mudah.
Percakapan mengalir.
Humor nyambung.
Nilai hidup serasi.
Cara mencintai cocok.
Kebutuhan emosional terpenuhi.
Tidak perlu terlalu banyak menjelaskan diri.
Tidak perlu terlalu banyak berkompromi.
Tidak perlu terlalu banyak belajar memahami.
Pokoknya klik.
Seperti menemukan potongan puzzle yang sejak awal memang dibuat untuk mengisi ruang kosong di dalam diri kita.
Konsep ini romantis.
Masalahnya, manusia bukan puzzle.
Dan hubungan bukan produk plug-and-play.
Kita tidak bertemu seseorang, memasangkannya ke dalam kehidupan kita, lalu semuanya otomatis bekerja tanpa perlu konfigurasi apa pun.
Dua manusia datang membawa sejarahnya masing-masing.
Masing-masing memiliki kebiasaan, luka, ketakutan, kebutuhan, cara berkomunikasi, ego, batasan, dan definisi tentang cinta yang mungkin berbeda.
Maka mungkin pertanyaan yang lebih sehat bukan:
“Apakah dia orang yang tepat untukku?”
Melainkan:
“Apakah kami memiliki cukup kesamaan, kedewasaan, dan kemauan untuk membangun sesuatu bersama?”
Itu pertanyaan yang jauh lebih tidak romantis.
Tetapi mungkin jauh lebih realistis.
Kita Terlalu Terobsesi Menemukan Orang yang “Pas”
Budaya populer telah mengajari kita sebuah cerita yang sangat menarik.
Ada seseorang di luar sana.
Seseorang yang berbeda dari semua orang lain.
Ketika akhirnya bertemu, kita akan tahu.
Ada chemistry.
Ada koneksi.
Ada perasaan seperti sudah mengenalnya sejak lama.
Dan karena itu terasa begitu natural, kita menganggap hubungan yang baik seharusnya tidak membutuhkan terlalu banyak usaha.
Kalau harus banyak menjelaskan.
Kalau sering terjadi salah paham.
Kalau gaya komunikasi berbeda.
Kalau kebutuhan emosional tidak langsung terbaca.
Kalau kita harus belajar bagaimana mencintai satu sama lain—mungkin berarti orang ini bukan the right one.
Lalu kita pergi.
Mencari orang berikutnya.
Kemudian terjadi hal yang sama.
Pergi lagi.
Cari lagi.
Sampai akhirnya seseorang berkata:
“Belum ketemu yang cocok.”
Padahal bisa jadi masalahnya bukan karena tidak ada orang yang cocok.
Bisa jadi kita memiliki definisi tentang cocok yang terlalu mirip dengan “tidak perlu beradaptasi.”
Dan itu dua hal yang berbeda.
Kecocokan Bukan Berarti Kesamaan Total
Dua orang bisa sangat berbeda tetapi memiliki hubungan yang sehat.
Seseorang mungkin lebih pendiam, sementara pasangannya lebih ekspresif.
Yang satu membutuhkan waktu untuk memproses konflik, yang lain ingin segera membicarakannya.
Yang satu spontan, yang lain lebih terencana.
Bahkan selera musik, hobi, cara menghabiskan waktu luang, atau latar belakang mereka bisa sangat berbeda.
Perbedaan itu sendiri bukan masalah.
Yang jauh lebih penting adalah:
Apa yang terjadi ketika perbedaan itu muncul?
Apakah keduanya bisa membicarakannya?
Apakah masing-masing mampu mendengarkan tanpa selalu merasa diserang?
Apakah ada ruang untuk berkata, “Aku berbeda darimu, tetapi aku ingin memahami mengapa kamu seperti itu”?
Apakah kompromi terjadi dari dua arah?
Apakah keduanya masih dapat menjadi diri sendiri tanpa harus mengecilkan diri agar hubungan bertahan?
Di situlah kecocokan mulai terbentuk.
Bukan pada saat dua orang menemukan bahwa mereka identik.
Tetapi ketika dua orang yang berbeda menemukan cara untuk hidup berdampingan tanpa saling menghapus.
Mungkin Kita Tidak Mencari Kecocokan. Kita Mencari Kepastian.
Ini bagian yang menurutku lebih menarik.
Kadang-kadang kita mengatakan sedang mencari orang yang cocok, padahal yang sebenarnya kita cari adalah jaminan bahwa kita tidak akan terluka.
Kita ingin seseorang yang pasti memahami kita.
Pasti menerima kita.
Pasti setia.
Pasti tidak meninggalkan kita.
Pasti memiliki kebutuhan yang sama.
Pasti mampu memberikan jenis cinta yang kita inginkan.
Dengan kata lain, kita ingin hubungan yang risikonya sudah dieliminasi sebelum kita masuk ke dalamnya.
Masalahnya:
Hubungan manusia tidak pernah memberikan jaminan seperti itu.
Untuk benar-benar dekat dengan seseorang, kita harus membuka bagian diri yang mungkin bisa ditolak.
Kita harus mengatakan apa yang sebenarnya kita butuhkan.
Mengakui ketika kita takut.
Mengatakan ketika sesuatu menyakiti kita.
Mengakui bahwa kita cemburu.
Mengakui bahwa kita tidak tahu bagaimana menghadapi suatu situasi.
Dan yang paling menakutkan:
kita harus memberi orang lain kesempatan untuk melihat diri kita secara utuh.
Bukan versi yang sudah dipoles.
Bukan versi yang selalu tenang.
Bukan versi yang selalu menarik.
Bukan versi yang selalu tahu harus berkata apa.
Diri kita yang sebenarnya.
Itulah kerentanan.
Dan kerentanan selalu membawa risiko.
“Kami Tidak Cocok” Kadang-Kadang Adalah Jalan Keluar yang Sangat Nyaman
Aku tidak mengatakan bahwa setiap kali seseorang merasa tidak cocok, dia sebenarnya sedang melarikan diri.
Tentu tidak.
Ada hubungan yang memang tidak sehat.
Ada perbedaan nilai yang fundamental.
Ada kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi tanpa mengorbankan salah satu pihak.
Ada batasan yang tidak boleh dinegosiasikan.
Dan ada situasi ketika meninggalkan hubungan justru merupakan keputusan yang sehat.
Tetapi ada juga kondisi lain.
Kita baru berbicara beberapa kali.
Belum benar-benar mengenal satu sama lain.
Belum pernah membicarakan hal-hal yang lebih dalam.
Belum pernah melewati konflik kecil.
Belum pernah melihat bagaimana orang tersebut memperlakukan kita ketika kecewa.
Namun kita sudah mengambil kesimpulan:
“Kayaknya nggak cocok.”
Menarik.
Bagaimana kita bisa mengetahui seseorang tidak cocok dengan kita kalau kita bahkan belum memberinya kesempatan untuk dikenal?
Mungkin yang kita sebut “tidak cocok” sebenarnya adalah:
“Aku belum nyaman.”
“Aku takut dia tidak menyukaiku.”
“Aku tidak tahu bagaimana harus membuka percakapan yang lebih personal.”
“Aku takut kalau aku terlalu dekat, aku bisa terluka.”
“Aku tidak ingin terlihat membutuhkan orang lain.”
Dan kadang-kadang:
“Aku ingin pergi sebelum ada kemungkinan aku ditinggalkan.”
Kalau demikian, masalahnya bukan lagi tentang kompatibilitas.
Masalahnya adalah keberanian untuk menjadi rentan.
Standar Tinggi Tidak Selalu Berarti Kedewasaan
Ada kebanggaan tertentu dalam mengatakan:
“Aku punya standar.”
Dan memang, memiliki standar adalah hal yang sehat.
Kita berhak memiliki batasan.
Kita berhak menolak perlakuan buruk.
Kita berhak menginginkan pasangan yang memiliki nilai hidup tertentu.
Kita tidak perlu menerima seseorang hanya karena takut sendirian.
Tetapi standar juga bisa berubah menjadi benteng.
Kita membuat daftar yang semakin panjang:
Harus begini.
Tidak boleh begitu.
Harus komunikatif, tetapi tidak terlalu banyak bicara.
Harus mandiri, tetapi tetap perhatian.
Harus pintar.
Harus matang secara emosional.
Harus punya selera tertentu.
Harus punya visi hidup yang sama.
Harus membuat kita nyaman sejak awal.
Harus ada chemistry.
Harus klik.
Harus terasa natural.
Dan kalau satu saja tidak terpenuhi:
“Bukan dia.”
Akhirnya standar bukan lagi alat untuk memilih hubungan yang sehat.
Ia menjadi mekanisme untuk memastikan tidak ada siapa pun yang pernah cukup dekat untuk mengecewakan kita.
Ini yang membuat standar tinggi perlu dibedakan dari ekspektasi yang tidak realistis.
Standar melindungi kita dari hubungan yang buruk.
Tetapi ekspektasi yang terlalu kaku bisa melindungi kita bahkan dari hubungan yang sebenarnya belum sempat tumbuh.
Kita Sering Menginginkan Hasil dari Sebuah Proses Tanpa Menjalani Prosesnya
Kita ingin kedekatan, tetapi takut membuka diri.
Kita ingin dipahami, tetapi malas menjelaskan.
Kita ingin komunikasi yang sehat, tetapi menganggap percakapan sulit sebagai tanda ketidakcocokan.
Kita ingin pasangan yang menerima kekurangan kita, tetapi merasa tidak nyaman ketika kekurangan pasangan muncul.
Kita ingin seseorang berjuang mempertahankan hubungan, tetapi kita sendiri pergi ketika hubungan mulai membutuhkan usaha.
Bukankah ada kontradiksi di sana?
Kita menginginkan hasil akhir dari kedekatan, tetapi tidak selalu bersedia menjalani proses yang membuat kedekatan itu mungkin.
Padahal keintiman bukan sesuatu yang ditemukan dalam satu malam.
Ia dikumpulkan sedikit demi sedikit.
Dari percakapan.
Dari kejujuran.
Dari kesalahpahaman yang berhasil diselesaikan.
Dari permintaan maaf.
Dari batasan yang dihormati.
Dari kompromi.
Dari pengalaman melihat seseorang dalam kondisi terbaiknya sekaligus kondisi terburuknya.
Dan terutama dari pengalaman mengetahui:
“Aku bisa menunjukkan diriku yang sebenarnya kepada orang ini, dan dia masih memilih untuk mengenalku.”
Tetapi Tidak Semua Perbedaan Harus Dipaksakan Menjadi Kecocokan
Ada satu jebakan lain ketika kita mengatakan bahwa kecocokan harus dibangun.
Kita bisa menjadi terlalu optimistis.
Seolah-olah kalau dua orang cukup dewasa, cukup komunikatif, dan cukup mencintai satu sama lain, semua perbedaan pasti dapat diselesaikan.
Tidak.
Ada hal-hal yang memang tidak seharusnya dipaksakan.
Nilai hidup yang bertolak belakang.
Pandangan fundamental tentang keluarga.
Keinginan memiliki atau tidak memiliki anak.
Batasan terhadap kesetiaan.
Cara memperlakukan orang lain.
Kebutuhan emosional yang sangat berbeda.
Arah hidup yang tidak mungkin dipertemukan.
Atau hubungan yang membuat seseorang terus-menerus kehilangan dirinya sendiri.
Dalam kasus seperti itu, meninggalkan hubungan bukan berarti gagal membangun kecocokan.
Justru mungkin merupakan bentuk kedewasaan.
Karena membangun kecocokan tidak berarti memaksa dua orang menjadi cocok.
Ia berarti mencari tahu apakah ada fondasi yang cukup untuk dibangun.
Jadi, Apa Sebenarnya Arti “The Right One”?
Mungkin the right one bukan seseorang yang datang dalam bentuk sempurna.
Mungkin ia adalah seseorang yang bersedia ikut mengerjakan hubungan itu bersamamu.
Seseorang yang bisa berkata:
“Aku berbeda darimu, tetapi aku ingin memahamimu.”
Dan kita pun mampu mengatakan hal yang sama.
Bukan:
“Akhirnya aku menemukan orang yang sangat cocok denganku.”
Tetapi:
“Aku menemukan seseorang yang dengannya aku bersedia belajar menjadi cocok.”
Perbedaannya kecil.
Maknanya sangat besar.
Yang pertama menjadikan hubungan seperti penemuan.
Yang kedua menjadikannya sebuah proses.
Dan proses selalu membutuhkan dua orang.
Kedewasaan Relasional Mungkin Dimulai Ketika Kita Berhenti Bertanya “Apakah Dia Tepat?”
Mungkin kita perlu mengganti beberapa pertanyaan.
Bukan hanya:
“Apakah aku tertarik kepadanya?”
Tetapi:
“Apakah aku merasa aman untuk menjadi diriku sendiri di dekatnya?”
Bukan hanya:
“Apakah kami punya banyak kesamaan?”
Tetapi:
“Apakah kami mampu menghormati perbedaan?”
Bukan hanya:
“Apakah hubungan ini terasa mudah?”
Tetapi:
“Ketika sesuatu menjadi sulit, apakah kami mampu menghadapinya bersama?”
Dan bukan hanya:
“Apakah dia orang yang tepat?”
Tetapi:
“Apakah kami berdua adalah orang yang cukup dewasa untuk membangun hubungan yang baik?”
Karena hubungan yang sehat mungkin memang tidak selalu terasa seperti menemukan rumah.
Kadang-kadang ia terasa seperti dua orang yang perlahan-lahan belajar membangun rumah bersama.
Mereka membawa bahan bangunan yang berbeda.
Mereka punya selera yang berbeda.
Mereka bahkan mungkin beberapa kali salah mengukur.
Ada bagian yang harus dibongkar.
Ada bagian yang harus diperbaiki.
Ada hari ketika keduanya lelah dan ingin berhenti.
Tetapi selama fondasinya sehat dan keduanya masih ingin membangun, rumah itu perlahan menjadi milik mereka berdua.
Mungkin Kita Tidak Membutuhkan “Orang yang Tepat”
Kita memang perlu memilih orang dengan hati-hati.
Tetapi mungkin kita tidak perlu menunggu seseorang yang terasa sempurna sejak pertemuan pertama.
Kita perlu seseorang yang cukup kompatibel untuk memulai, cukup aman untuk membuat kita rentan, dan cukup dewasa untuk ikut membangun.
Sisanya?
Sebagian akan ditemukan.
Sebagian akan dipelajari.
Sebagian akan dinegosiasikan.
Dan sebagian mungkin tidak pernah berhasil dipertemukan.
Itulah hubungan manusia.
Tidak sempurna.
Tidak pasti.
Tidak plug-and-play.
Dan justru karena itulah ia menjadi sesuatu yang hidup.
Mungkin masalah terbesar dari terus menunggu the right one bukan karena orang yang tepat tidak pernah datang.
Melainkan karena kita bisa menghabiskan seluruh hidup menunggu seseorang yang tidak perlu kita perjuangkan untuk menjadi cocok dengan kita.
Padahal kedekatan yang nyata hampir selalu menuntut sedikit keberanian.
Keberanian untuk membuka diri.
Keberanian untuk mendengar sesuatu yang tidak ingin kita dengar.
Keberanian untuk berkompromi tanpa kehilangan diri.
Keberanian untuk mengatakan, “Aku tidak mengerti kamu, tetapi aku ingin mencoba memahamimu.”
Dan mungkin, pada akhirnya, cinta bukan tentang menemukan seseorang yang sejak awal sudah pas dengan seluruh bagian hidup kita.
Mungkin cinta adalah ketika dua manusia yang tidak pernah mungkin sepenuhnya cocok memilih untuk terus belajar bagaimana menjadi tempat yang baik bagi satu sama lain. 🦉



Komentar
Posting Komentar